• Mao Seekor Teman Baru

    Mao Seekor Teman Baru

    Maow di meja kerja.

Mao

Loncat. Loncat. Loncat.

“Kemari dong!” kataku.

Dia menengok, lalu melengos. Sungguh tingkah lakunya membuatku gemas. Aku pikir sebagai satu-satunya teman dia tak perlu sebegitu angkuh menanggapi panggilanku.

“Siniiiii….” Kataku lagi.

Dia pun tersenyum tengil dan menghampiriku. Memilih meja kerja berantakanku sebagai singgasananya. Tapi aku suka karena dengan begitu aku dan dia benar-benar saling berhadapan.

Baik, aku perkenalkan seekor kucing ajaib. Teman baruku mulai hari ini karena makhluk nyata lebih nyata untuk menyakiti. Karena makhluk nyata bisa pergi bersama harapan yang sudah tersusun rapi. Kalau dia pergi tentu harapan itu pun ikut pergi. Lelah sekali harus membangun harapan baru mulai dari pondasi. Maka aku perkenalkan teman khayalan baru yang tak akan pernah pergi. Dia pergi jika aku ingin. Aku sih tak pernah ada keinginan membiarkannya pergi. Toh, aku akan membutuhkannya untuk tempat sampah tak terbatas.

Namanya Mao. Mao berasal dari warna bulunya yang mirip sapi. Putih dengan noda hitam bertebaran. Mao kini berumur 4 bulan. Sedang lucu-lucunya untuk mainan. Mao mulai sekarang akan menemaniku. Mendengarkan keluh kesahku. Karena monolog lebih gila dari ngobrol dengan teman khayalan. Mungkin itu masih berlaku untuk manusia yang berumur 27 tahun.

Jadi Mao, say hai dong dengan mereka. Makhluk nyata yang penuh dengan keegoisan. Makhluk nyata yang bersosial karena sarat kepentingan. Makhluk nyata yang selalu tak puas dan selalu ingin dipuaskan. Makhluk nyata yang senang memberi harap lalu menghancurkan pondasinya begitu saja. Iya Mao, itulah makhluk nyata. Tapi aku tahu kamu makhluk khayalan. Kamu berbeda. Aku yang membentukmu. Jadi kamu itu sempurna. Sempurna untukku.

“Meow!” kata Mao.






Free Online Portfolio Builder